Ancaman siber saat ini tidak lagi bersifat abstrak atau jauh dari kehidupan sehari-hari. Ia hadir nyata, berdampak langsung, dan terus berevolusi mengikuti kemajuan teknologi. Mulai dari kebocoran data, gangguan layanan publik, hingga serangan terhadap sektor strategis, keamanan siber telah menjadi isu krusial yang menuntut pendekatan berbasis kasus nyata dan pemahaman mendalam terhadap dinamika industri digital. Inilah semangat yang dihadirkan Pradita University melalui kuliah umum bertajuk Automating Cyber Threat Detection: The Role of Generative AI in Intelligence Gathering.
Diselenggarakan oleh Program Master’s Degree Information Technology Pradita University, kuliah umum ini berlangsung secara daring melalui Zoom pada Sabtu, 17 Januari 2026, pukul 10.00–12.00 WIB. Acara ini menghadirkan Prof. Dr. Rahmat Budiarto, Profesor di Universitas Albaha, Saudi Arabia, yang berbagi pengalaman dan sudut pandang berbasis praktik mengenai pemanfaatan Generative AI dalam menghadapi ancaman siber modern.
Dalam paparannya, Prof. Rahmat mengajak peserta untuk melihat keamanan siber dari perspektif nyata, bukan sekadar konsep teoretis. Ia menyoroti bagaimana eskalasi serangan siber meningkat signifikan dari tahun ke tahun, terutama melalui Advanced Persistent Threat (APT) yang bersifat jangka panjang, kompleks, dan melintasi batas negara. Serangan ini kerap menyasar rantai pasok vital seperti pangan dan kesehatan, sehingga dampaknya tidak berhenti pada sistem digital, tetapi merembet ke stabilitas ekonomi dan sosial.
Pendekatan berbasis real case inilah yang menjadi benang merah diskusi. Prof. Rahmat menjelaskan bahwa banyak organisasi masih mengandalkan sistem keamanan tradisional yang tidak lagi relevan dengan kompleksitas ancaman saat ini. Data yang tidak terstruktur, alat keamanan yang terpisah-pisah, serta waktu respons yang lambat sering kali membuat tim keamanan tertinggal beberapa langkah dari penyerang. Dalam konteks nyata, keterlambatan ini bisa berujung pada kerugian besar yang sulit dipulihkan.
Generative AI kemudian hadir sebagai solusi strategis yang menjembatani kesenjangan tersebut. Dengan dukungan Large Language Models dan teknologi AI generatif, proses intelligence gathering dapat dilakukan secara lebih cepat, akurat, dan kontekstual. AI mampu membaca pola serangan, mengolah data dalam skala besar, serta menghasilkan actionable insights yang membantu pengambilan keputusan secara real time. Inilah transformasi nyata yang kini terjadi di industri keamanan siber global.
Diskusi juga menyentuh aspek yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, yakni keamanan rumah tangga digital. Menjawab pertanyaan peserta, Prof. Rahmat menegaskan bahwa banyak kasus kebocoran data berawal dari celah sederhana, seperti jaringan WiFi rumah dan perangkat IoT yang kurang terlindungi. “Ketika jaringan rumah berhasil ditembus, itu bisa menjadi pintu masuk ke seluruh perangkat lain,” jelasnya. Contoh konkret ini memperkuat pemahaman bahwa keamanan siber bukan hanya tanggung jawab korporasi besar, tetapi juga individu.
Namun, Prof. Rahmat menekankan bahwa teknologi tidak bisa berdiri sendiri. AI memang mampu mengotomatisasi deteksi malware dan analisis serangan, tetapi pemahaman terhadap motif penyerang tetap membutuhkan intuisi dan analisis manusia. Motif ekonomi, kepentingan geopolitik, hingga dorongan psikologis sering kali menjadi faktor penentu di balik sebuah serangan. Perspektif ini memperlihatkan pentingnya kombinasi antara teknologi mutakhir dan pemahaman manusia yang kontekstual.
Dalam konteks pendidikan, hal ini sejalan dengan pendekatan Pradita University yang menekankan pembelajaran berbasis Real Case, Real Experience. AI dipandang sebagai alat bantu produktivitas yang memperkuat proses belajar, bukan menggantikan peran manusia. “AI bisa mempercepat proses teknis, tetapi nilai kemanusiaan dalam pendidikan harus tetap dijaga,” ujar Prof. Rahmat. Interaksi, diskusi, dan presentasi tetap menjadi elemen penting agar mahasiswa tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga matang secara analitis dan etis.
Seiring berkembangnya teknologi, sistem keamanan pun terus berevolusi. Firewall tradisional berbasis tanda tangan dinilai semakin tidak efektif menghadapi malware yang adaptif. Integrasi AI dan LLM membuka jalan menuju pertahanan cerdas yang mampu mengenali pola serangan baru. Bahkan, riset ke depan mulai mengarah pada pemanfaatan komputasi kuantum sebagai lapisan keamanan data berikutnya.
Melalui kuliah umum ini, Pradita University kembali menegaskan posisinya sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga aktif membedah kasus nyata dan tantangan industri global. Pembelajaran tidak berhenti pada teori, melainkan diperkaya dengan pengalaman praktis, wawasan internasional, dan diskusi kritis yang relevan dengan dunia kerja.
Di era ancaman siber yang semakin kompleks, kolaborasi antara teknologi, etika, dan kesadaran manusia menjadi kunci. Generative AI membuka peluang besar untuk membangun pertahanan digital yang lebih kuat, dan Pradita University terus berkomitmen mempersiapkan talenta yang siap menghadapi tantangan tersebut melalui pendekatan pendidikan yang relevan, aplikatif, dan berbasis real experience.
#PraditaUniversity #GenerativeAI #CyberSecurity #IntelligenceGathering #RealCaseRealExperience #MasterInformationTechnology