Dari Pontianak ke Panggung Nasional: Kisah Stephanie Pencipta Maskot Pemilu 2024

by pradita | Dec 15,2025 | publication

Tidak semua mimpi dimulai dari panggung besar. Ada yang lahir dari keberanian seorang remaja meninggalkan kampung halaman, membawa satu koper, segenggam harapan, dan sebuah pensil yang sejak kecil menjadi sahabatnya. Begitulah langkah awal Stephanie—sosok di balik maskot Pemilu 2024—yang perjalanannya membuktikan bahwa keberanian merantau bisa mengubah hidup seseorang.


Dari Pontianak ke Tangerang: Langkah Awal Seorang Perantau

Stephanie berasal dari Pontianak. Keputusan untuk merantau ke Tangerang demi melanjutkan studi di Pradita bukanlah hal kecil, terlebih di usia belia. Namun justru di kota baru itulah ia menemukan ruang untuk tumbuh. Lingkungan kampus yang hangat, modern, dan dekat dengan industri membuatnya cepat merasa “pulang”, hingga akhirnya keluarganya pun ikut menetap di Tangerang.


“Di Pradita, kuliahnya terasa seperti dunia kerja. Ketemu klien, presentasi, kerja tim, semuanya bikin saya terlatih,” kenangnya saat berbincang dengan tim Marcomm melalui Zoom.


Adaptasi itu bukan sekadar bertahan—melainkan berkembang. Di tengah dinamika perkuliahan, Stephanie menemukan bahwa menggambar bukan hanya hobi masa kecil, tetapi jalan hidup yang akan ia perjuangkan. Dari ruang kelas itulah mimpi-mimpinya mulai mendapat bentuk, sampai akhirnya membawanya ke panggung nasional.


Berawal dari Tugas Kuliah

Ketika KPU RI merilis dua maskot Pemilu 2024—Sura (Suara Rakyat) dan Sulu (Suara Pemilu)—nama seorang mahasiswi berusia 19 tahun langsung mencuri perhatian publik: Stephanie, mahasiswa DKV Universitas Pradita. Tak banyak yang tahu bahwa karya berskala nasional itu sebenarnya bermula dari sebuah tugas kelas biasa.


Dua burung Jalak Bali berwarna putih tersebut bukan sekadar maskot sebuah pesta demokrasi. Mereka adalah simbol perjalanan seorang anak rantau yang sejak kecil menjadikan menggambar sebagai bahasa ekspresinya. Bagi Stephanie, tugas kuliah ini bukan beban, tetapi kesempatan untuk melangkah lebih jauh.


Selama hampir dua bulan, ia mengerjakan desainnya sambil menjalani rutinitas perkuliahan. Dari 681 desain milik 540 peserta, karyanya terus melaju—dari seleksi awal, semifinal, hingga babak final di hadapan dewan juri nasional.


Perjalanan panjang itu berakhir manis. Stephanie keluar sebagai pemenang terbaik, mengungguli peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Namun kemenangannya bukan hanya soal visual yang menarik, melainkan bagaimana Sura dan Sulu mampu menyampaikan pesan kepemiluan secara sederhana, kuat, dan relevan. Dewan juri menilai desainnya kreatif, komunikatif, mudah dipahami, serta fleksibel digunakan di seluruh provinsi tanpa menonjolkan identitas daerah tertentu. Karakter tersebut juga dinilai ramah bagi generasi muda dan efektif menjadi ikon kampanye karena tampilannya yang bersih, hangat, dan mudah diingat.


Sejak 2024, Sura dan Sulu resmi digunakan oleh KPU dalam berbagai kegiatan nasional maupun daerah—hadir di televisi, media sosial, hingga panggung sosialisasi pemilu. Karya Stephanie tidak lagi sekadar tugas kuliah; ia telah menjadi ikon yang menyapa jutaan masyarakat Indonesia, membuktikan bahwa karya anak muda dapat memberi warna bagi perjalanan demokrasi.


Berkarya Sebebas Mungkin: Jalan yang Dipilih Stephanie

Tidak seperti banyak mahasiswa lain yang bercita-cita bekerja di perusahaan besar, Stephanie memilih jalannya sendiri—jalan yang memberinya ruang untuk bebas berekspresi. “Aku nggak mau jadi budak corporate,” katanya jujur. Bukan karena ia memandang rendah dunia kerja, tetapi karena ia tahu dirinya butuh ruang untuk berkembang tanpa batas. Dalam struktur perusahaan, ia merasa harus mengikuti cara bermain orang lain. Sementara sebagai freelance artist, justru orang-orang yang datang menghampiri adalah mereka yang sudah mengenal dan menyukai gaya gambarnya.


Bagi Stephanie, kebebasan berkarya adalah napas utama kreativitas. Ia ingin menyelam ke berbagai proyek, berkreasi tanpa tembok, dan menghidupkan karakter-karakter yang bisa ikut meramaikan dunia entertainment, tetapi juga industri kreatif yang lebih besar. Keinginannya bukan membangun perusahaan atau mempekerjakan orang lain, melainkan membuat karya yang bisa menyebar luas, memberi warna, dan bermanfaat bagi siapa pun yang melihatnya.


Kemenangannya di kompetisi maskot Pemilu memang membuka banyak peluang, namun yang lebih penting baginya adalah pelajaran berharga tentang keberanian. Kesempatan besar tidak datang setiap hari, dan menerima tantangan baru sering kali menjadi titik balik. “Aku pengin gambar-gambarku berguna, bisa mempengaruhi orang, bisa hidup di tempat yang lebih besar,” ujarnya.


Sura dan Sulu menjadi salah satu bukti mimpi itu mulai terwujud. Karakter yang lahir dari goresan tangannya kini hadir di ruang publik, dikenal generasi muda, dan menjadi bagian dari momen penting dalam sejarah demokrasi Indonesia. Bagi Stephanie, ini bukan puncak, melainkan awal dari perjalanan panjang sebagai kreator yang memilih kebebasan, passion, dan keberanian sebagai kompas hidupnya.


Perjalanan Stephanie mengingatkan kita bahwa karya besar tidak selalu lahir dari panggung besar—kadang justru dari satu tugas kecil yang dikerjakan dengan sepenuh hati. Dan dari ruang kelas sederhana itu, lahirlah seorang kreator muda yang tidak hanya membangun karier, tetapi sedang membangun masa depan.