Bagi Yusuf Immanuel Tooy, memilih jurusan kuliah bukan keputusan yang datang secara tiba-tiba. Sejak duduk di bangku SMA, ia sudah memiliki satu tujuan: mendalami dunia kuliner secara serius.
Pencariannya membawa Yusuf pada Program Studi Seni Kuliner Universitas Pradita. Setelah mencari berbagai pilihan kampus, berdiskusi mengenai metode pembelajaran, hingga datang langsung melihat fasilitas laboratorium praktik, Yusuf merasa menemukan tempat yang sesuai dengan arah yang ingin ia tuju.
“Setelah ngobrol tentang metode pembelajarannya dan visit langsung ke lab praktiknya, langsung klop dan akhirnya memutuskan untuk join ke Pradita,” cerita Yusuf, yang masuk pada 2022 dan menyelesaikan studinya pada 2025.
Bukan Sekadar Belajar Memasak
Selama menjadi mahasiswa Culinary Arts Pradita, Yusuf merasakan bahwa proses pembelajaran tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan sebuah hidangan.
Dalam praktik operasional, ia dan mahasiswa lainnya menghadapi menu yang berbeda setiap minggu, mulai dari hidangan lokal, Asia, hingga Western. Pembelajaran juga tidak hanya berfokus pada kitchen dan pastry, tetapi mencakup service serta beverage.
Pengalaman tersebut memberikan gambaran yang lebih luas mengenai bagaimana industri hospitality dan food & beverage bekerja secara keseluruhan.
Namun, menurut Yusuf, ada satu hal yang membuat pengalaman kuliahnya semakin lengkap: kesempatan untuk belajar melalui organisasi, project, dan magang.
“Kalau waktu kelas kita belajar bagaimana membuat produk yang bagus dan bagaimana bisa kreatif, lewat organisasi dan project kita belajar bagaimana bekerja sebagai tim. Begitu juga dengan magang, kita dipersiapkan lebih matang untuk siap terjun ke dunia industri profesional,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut menjadi bentuk nyata pembelajaran melalui praktik. Apa yang dipelajari di kelas bertemu dengan situasi yang dihadapi dalam project, organisasi, hingga dunia kerja.
Bahkan Sebelum Lulus, Sudah Merasakan Dunia Industri
Perjalanan Yusuf menuju dunia profesional bahkan dimulai sebelum ia resmi menyandang gelar sarjana.
Setelah menjalani program magang di sebuah hotel, ia mendapat kesempatan untuk melanjutkan bekerja di tempat tersebut selama kurang lebih delapan bulan.
Pengalaman itu menjadi salah satu fase penting dalam transisinya dari mahasiswa menuju dunia profesional. Setelah lulus, Yusuf kemudian mulai membangun bisnis makanannya sendiri dengan spesialisasi pasta dan Western food yang dijalankan secara online.
Tidak berhenti di sana, perjalanan kariernya kembali berkembang ketika ia direkrut oleh DAAI TV sebagai host dalam program cooking show Vegetarian Kitchen.
Kini, Yusuf menjalani dua peran sekaligus: sebagai food business owner dan chef host di Vegetarian Kitchen DAAI TV.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa karier di bidang kuliner tidak selalu memiliki satu jalur. Pengalaman yang dibangun sejak masa kuliah dapat membuka berbagai kemungkinan, mulai dari bekerja di industri hospitality, membangun bisnis, hingga masuk ke dunia media.
Skill Bisa Dipelajari, tetapi Attitude Harus Dibentuk
Ketika ditanya mengenai hal paling berharga yang dibawa dari Pradita ke dunia kerja, Yusuf tidak langsung menyebut teknik memasak atau pengetahuan kuliner.
Jawabannya justru satu kata: attitude.
“Sebetulnya semua yang dipelajari berguna, tapi yang sangat memorable adalah attitude. Kami dididik untuk mempunyai fundamental yang kuat, bagaimana kita beradaptasi, berkomunikasi, dan menyelesaikan sebuah masalah,” jelasnya.
Menurut Yusuf, pembentukan sikap tersebut sudah ditanamkan sejak semester pertama dan perlahan menjadi kebiasaan yang terbawa hingga memasuki dunia profesional.
Hal tersebut menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan seorang mahasiswa menuju dunia kerja. Kemampuan teknis menjadi fondasi, tetapi kemampuan beradaptasi, berkomunikasi, menyelesaikan masalah, dan menjaga sikap menjadi bagian yang menentukan bagaimana seseorang berkembang dalam lingkungan profesional.
Belajar Bertahan Ketika Dunia Kerja Tidak Semudah Kuliah
Memasuki dunia kerja juga membuat Yusuf menemukan tantangan yang berbeda dari kehidupan sebagai mahasiswa.
Salah satunya adalah persoalan waktu. Menurutnya, ritme perkuliahan dan dunia kerja, khususnya industri F&B, memiliki perbedaan yang sangat besar.
“Kalau kuliah pulang kelas masih bisa main atau nongkrong. Tapi kalau kerja, especially di F&B, waktunya sangat padat. Belum lagi kalau kita tidak cocok dengan lingkungan kerja,” tuturnya.
Namun, ia memilih menghadapi situasi tersebut dengan mengubah cara pandang.
Baginya, ketika sudah menjadi tanggung jawab, hal tersebut harus dijalankan dengan serius.
Sikap tersebut juga sejalan dengan pesan yang ia rasakan selama menjalani pendidikan di Pradita: membangun fundamental yang kuat, beradaptasi dengan situasi, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan.
Menjadi Alumni yang Ingin Memberi Dampak
Kini, Yusuf tidak hanya ingin membangun karier untuk dirinya sendiri. Ia memiliki motivasi yang lebih besar: memberikan dampak bagi generasi muda.
Baginya, legacy tidak selalu harus lahir dari keberhasilan. Kegagalan pun dapat menjadi pelajaran yang berharga jika seseorang mau belajar dari pengalaman tersebut.
“I always learn from my mistakes, learn my past and try to do better, so one day I can guide a young generation who lost their way,” ujarnya.
Prinsip tersebut terangkum dalam nilai yang ia pegang: “Live your calling.”
Yusuf percaya bahwa perjalanan karier tidak selalu mudah dan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Namun, ia memilih untuk terus menjalani proses dan percaya bahwa setiap pengalaman memiliki tujuan dalam membentuk perjalanan hidupnya.
Pesan Yusuf untuk Mahasiswa Pradita
Untuk mahasiswa yang sedang menjalani masa kuliah, Yusuf memiliki pesan singkat namun tegas:
“Know what you want, cover your ears, then walk as far as you go.”
Baginya, mahasiswa perlu memahami apa yang ingin dicapai dan tidak terlalu mudah terpengaruh oleh berbagai suara di sekitar. Setiap orang memiliki perjalanan masing-masing, sehingga keberanian untuk terus berjalan menjadi bagian penting dalam membangun masa depan.
Perjalanan Yusuf menjadi gambaran bahwa pendidikan tidak berhenti ketika seseorang meninggalkan kampus. Pengalaman praktik, project, organisasi, magang, hingga pembentukan attitude selama masa kuliah dapat menjadi bekal yang terus dibawa ketika memasuki dunia profesional.
Dari belajar di kitchen, merasakan langsung ritme industri hotel, membangun bisnis makanan, hingga tampil sebagai chef host di televisi, perjalanan Yusuf menunjukkan satu hal: karier tidak selalu dimulai dari langkah yang besar. Kadang, semuanya dimulai dari keberanian untuk memilih bidang yang benar-benar ingin dijalani, lalu terus belajar dari setiap pengalaman.
Bagi Yusuf, satu kalimat menjadi pengingat dalam perjalanan tersebut:
“A mistake doesn’t make you a failure. You only failed today, not for your whole life.”